Kamilus Tupen, Mantan TKI Pencetus Kelompok Tani Lewowerang

Perekonomian yang baik sangat diharapkan setiap orang. Jika perekonomian belum baik, maka bisa memicu persoalan lain hingga keresahan. Hal itulah yang mengganjal pikiran Kamilus Tupen, mantan TKI, pencetus sebuah kelompok tani di salah satu desa di NTT. Beliau rela membina masyarakat untuk bekerja keras meningkatkan perekonomian bersama.


Munculnya Ide Pembentukan Kelompok Tani
Bagi sebagian besar orang, pergerakan untuk perubahan tidaklah mudah, terlebih jika tidak mempunyai dana. akan tetapi, berbeda halnya dengan Kamilus Tupen. Seorang kakek yang bertempat tinggal di Honihama, Tuwagoetobi, Witihama, Adonara, NTT, rela berjuang demi perbaikan ekonomi di kampungnya. Beliau mencetuskan kelompok tani berlandaskan kerja sama.

Pergerakan ini dimulai dengan keresahannya atas perekonomian dirinya dan masyarakat di kampung halamannya. beliau pernah menjadi TKI di Malaysia dan kembali lagi ke Indonesia sebagai TKI pembelajar. Selama menjadi TKI, beliau selalu terbayang untuk menerapkan gagasannya di tanah kelahirannya.

Beliau bertekad memperbaiki perekonomian keluarga dan juga masyarakat sekitar. Setelah berpikir, beliau merencanakan pembentukan kelompok tani dengan sistem kerja sama atau solidaritas antar warga. Kerja sama ini dalam bentuk pengelolaan koperasi desa atas hasil bercocok tanam. Dengan demikian, perekonomian akan berkembang bersama dan mencapai kesejahteraan.

Penerapan Gagasan dalam Kelompok Tani
Setelah menjadi TKI di Malaysia selama 10 tahun, Kamilus bertekad menerapkan gagasannya. Beliau memberi contoh untuk bersemangat bercocok tanam dengan fokus menggarap lahan. Petani juga bisa sukses. Akhirnya, hasil panen Kamilus sangat baik dan dihargai lebih. Pada akhirnya, masyarakat tergerak untuk mendengar ajakannya membentuk kelompok tani.

Kerja sama mereka sangat memuaskan. Anak-anak muda sampai dewasa bersatu padu mengusahakan kegiatan mereka dalam bercocok tanam. kamilus mengadakan sosialisasi rutin demi kemajuan usaha mereka sebagai petani. Dalam waktu 2 minggu, terdapat 70 orang bergabung dalam kelompok tani.

Di dalamnya, terdapat sistem koperasi yang digunakan sebagai pengelolaan hasil tanam. Dengan penerapan lembaga koperasi dalam kelompok tani, kesejahteraan mereka meningkat karena terdapat pengelolaan modal dan hasil yang terstruktur. Kamilus yang mengelola dan mengajarkan sistem tersebut kepada generasi muda.

Keberhasilan Kelompok Tani
Seiring berjalannya waktu, kelompok tani yang diberi nama Kelompok Tani Lewowerang ini lebih maju. Usaha simpan pinjam atau dikenal dengan koperasi tersebut mampu meningkatkan penghasilan setiap anggotanya. Sebagai penggagas kelompok tani ini, Kamilus merasa sangat bangga atas ilmunya yang berguna dan atas kerja sama antar warga yang mengagumkan.

Asuransi wakaf yang bertujuan memberikan kebermanfaatan bagi orang lain merupakan hal yang sevisi dari gagasan Kamilus. Dengan dana tersebut, masyarakat jadi lebih sejahtera. Perekonomian yang maju dapat memenuhi segala kebutuhan sekaligus menurunkan intensitas masyarakat untuk menjadi TKI. Mereka mampu mengolah tanah sendiri, dibanding kerja di negeri orang.

Keberhasilan Kamilus Tupen dalam menerapkan gagasan badan usaha di desanya sangat pantas diapresiasi. Beliau berkesempatan mendapat hadiah kompetisi Blog Berlipatnya Berkah dari lembaga asuransi wakaf Allianz. Sesuai dengan tujuan wakaf, dana tersebut dapat berdaya guna untuk kemakmuran masyarakat. Perekonomian daerah NTT bisa lebih maju dan sejahtera.
Kamilus Tupen, Mantan TKI Pencetus Kelompok Tani Lewowerang Kamilus Tupen, Mantan TKI Pencetus Kelompok Tani Lewowerang Reviewed by Erna Wati on Juli 12, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar